• Senin, 4 Juli 2022

Harga Jual Turun, Biaya Ekspedisi Naik, Pembudidaya Lobster Berpotensi Merugi

- Minggu, 29 Mei 2022 | 15:24 WIB
IMG_20220529_151624
IMG_20220529_151624

-
Kolam penampungan lobster milik salah satu pembudidaya lobster di Dusun Telong-elong, Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru./ Foto : Unra/www.ntbpos.com

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com - Mahalnya biaya expedisi menyebabkan timbulnya potensi kerugian yang dialami pengusaha dan pembudidaya Lobster di Dusun Telong-elong, Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru.

“Banyak yang bangkrut akibat harga jual menurun, biaya transportasi dan ekspedisi juga naik,“ kata Mashur, ketua kelompok budidaya Lobster "Maju Jaya" Dusun Telong-elong, Desa Jerowaru, Sabtu, 28 Mei 2022.

Selanjutnya, ia menjelaskan, harga normal Lobster jenis pasir di pembudidaya Rp. 400.000/kg, saat ini turun menjadi Rp 300.000. Jenis mutiara yang semula harga Rp 875.000, sampai Rp 800.000/ kg turun menjadi Rp 500.000.

Sedangkan biaya pengiriman menggunakan pesawat, awalnya dihitung Rp 7000/kg naik menjadi Rp 12.000, saat ini mencapai Rp 17.500. Biaya transport ke bandara menggunakan mobil pick up Rp 300.000, belum lagi biaya lain seperti box dan koran.

“Sebelum diterima relasi, dikarantina dulu 12 jam. Dengan itu pasti ada saja Lobsternya mati atau lemas, jika ditemukan seperti itu, harganya pun pasti dipatok lebih murah,“ ungkapnya.

“Turunnya harga juga disebabkan karena Negara Vietnam sedang panen saat ini,“ imbuhnya.

Meskipun harga turun, pengusaha dan pembudidaya Lobster terpaksa menjual untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Ada juga yang menahan menunggu harga mulai normal.

Ia berharap, Pemerintah Daerah dan Provinsi turut memantau harga Lobster serta biaya pengiriman untuk meminimalisir kerugian pengusaha dan pembudidaya Lobster. np

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Pemerintah Didesak Melegalkan Ganja Medis

Sabtu, 2 Juli 2022 | 11:38 WIB
X